Jalan Ibadah Melalui Lingkungan dan Sampah

Jalan Ibadah Melalui Lingkungan dan Sampah

2017-04-20 18:17:37 +0700

Dinkominfo - Mendengar kata sampah pasti identik dengan sesuatu yang kotor dan kumuh. Namun bagi Chusniati, sampah dan lingkungan merupakan panggilan jiwa sekaligus jalan ibadah. Kiprah pendiri Bank Sampah Bintang Mangrove (BSBM) ini dalam mengolah sampah dan menjaga lingkungan memang tidak mudah, namun berkat usahanya itu pula wilayah Gunung Anyar Tambak berubah menjadi kampung yang asri dengan warga yang peduli dengan lingkungan.

Lahir di Surabaya 43 tahun yang lalu, perempuan ke 6 dari 8 bersudara ini sudah mememiliki kepedulian terhadap lingkungan. Hal tersebut diakuinya menurun dari ayahnya yang saat itu menjabat Pamong Desa.

“Saya dulu sering diajak oleh bapak untuk berkeliling membersihkan jalan desa” ujarnya.

Keterbatasan ekonomi mengubur impiannya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi selepas sekolah dasar. Namun kepeduliannya terhadap lingkungan tidak serta merta luntur karena hal tersebut hingga sekarang.

Chusniati menuturkan, mengubah kebiasaan warga khususnya yang ada di wilayah tempat tinggalnya  memang tidak mudah. Sebagai warga yang tinggal dekat dengan sungai, banyak warga yang terbiasa membuang sampah ke sungai. Sampah tersebut terbawa aliran sungai hingga bermuara di kawasan. Ia tidak ingin kawasan hutan mangrove tersebut menjadi kotor dengan banyaknya sampah. Selain kotor dan bau, sampah tersebut juga mengundang nyamuk.

Berawal dari tahun 2010 ia dan sang suami Kusbiyanto terjun untuk mengurus lingkungan, terutama tentang sampah. Karena ia merasa sejak ramai digalakkannya penanaman Mangrove pada 2007, kondisi perkembangan tanaman mangrove tidak begitu baik. Kemudian pada tahun 2011 Chusniati mendapat tawaran CSR (Corporate Social Responbility) dari PLN untuk mendirikan bank sampah di kampungnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung menyetujui tawaran tersebut dengan harapan untuk merubah lingkungannya menjadi lebih bersih.

Sempat ditolak oleh warga, Chusniati mencoba meyakinkan kembali tujuan didirikan bank sampah ini supaya kawasan Gunung Anyar Tambak bisa bersih dan hijau. Beruntung masyarakat mau menerima ide dan mencoba terlebih dahulu tawaran itu. Chusniati dan suami akhirnya memberi nama bank sampah tersebut dengan sebutan bank sampah Bintang Mangrove.

Dengan adanya bank sampah ini warga tidak perlu lagi membuang sampah ke sungai, mereka bisa menjual sampah nya ke Bank Sampah Bintang Mangrove. Sampah yang didapat Chusniati tidak hanya dari warga sekitar melainkan juga dari para nelayan yang sedang melaut. Apabila para nelayan pulang tidak membawa hasil ikan tangkapannya, mereka bisa membawa pulang sampah dari sungai untuk kemudian dijual di Bank Sampah Bintang Mangrove.

Sampah yang didapat bisa mencapai 2 ton per bulan, yang terdiri dari sampah sungai dan sampah rumah tangga. Sampah dari sungai per orang bisa mengumpulkan 4 kwintal sampah per hari nya. Sedangkan sampah rumah tangga perbulan bisa mecapai 5 sampai 10 kwital. Di Bank Sampah Bintang Mangrove sampah akan dipilah kembali karena jika tidak sampah rumah tangga akan tercampur dengan sampah yang tidak bisa dijual. Sampah yang dipilah memiliki harga jual yang lebih tinggi yakni 4.500 per kilogram bahkan bisa mencapi 7.000 per kilogram. Sejak ada pemberitahuan itu, masyarakat mulai untuk memilah sampah yang akan diserahkan. Sedangkan sampah yang tidak memiliki nilai jual, Chusniati menyerahkannya ke Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH)

Berkat aksi yang dilakukan oleh Chusniyati, kini telah memberikan dampak positif untuk lingkungan dan merubah pola pikir masyarakat untuk tidak membuang sampah lagi di sungai. Tak heran banyak sekali pihak yang mengundang dirinya atau datang langsung ke tempatnya untuk menimba ilmu mengolah sampah

Semangat Chusniati untuk menyadarkan masyarakat tak pernah putus. Kedepannya Chusniati ingin menjadikan Bank Sampah sebagai Wisata Edukasi, ia ingin merealisasikan ide nya dan bekerjasama dengan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) GAT media dan Swaraguna.

“Bagi saya hidup itu ladang ibadah, ibadah bisa dilakukan dengan banyak cara. Apa yang bisa saya berikan untuk masyarakat, uang juga tidak ada. Hanya ini yang bisa saya berikan untuk masyarakat, saya percaya apapun yang dilakukan pasti dibalas Allah SWT. Seperti sudah ada panggilan jiwa” Pesan Chusniati. (hnm/ynu)

 

Agenda
2017-12-06 08:14:15 +0700
Fun Bike HUT KORPRI ke-46
2017-11-30 17:56:38 +0700
Lombah Panah Tradisional "Gladen Ageng Jemparingan"
2017-11-23 15:38:34 +0700
Himbauan Hari Bebas Kendaraan Bermotor
2017-11-14 15:51:28 +0700
Pertunjukan Rakyat
2017-11-13 14:50:04 +0700
Bursa Kerja Terbuka November 2017