31/01/2012 14:33:25
Efektivitas Pemakaian Gas Bumi, Tekan Pengeluaran hingga 30-50 %

Dinkominfo - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI menggelar rapat kerja via video conference dengan tiga kota yakni Surabaya, Palembang dan Tarakan, Selasa (31/1). Di Surabaya, acara tersebut bertempat di Balai Kota, dihadiri Walikota Surabaya Tri Rismaharini beserta jajaran kepala SKPD dan puluhan perwakilan warga pengguna gas bumi. 

Rapat kerja diselenggarakan dalam rangka monitoring dan evaluasi kegiatan pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga. Serta untuk mengetahui secara langsung pelasanaan pengaliran gas, kendala yang dihadapi daerah sehingga mendapatkan masukan, tukar pendapat dan saran dari pihak-pihak terkait. Pembangunan jaringan gas bumi untuk rumah tangga juga sebagai salah satu langkah untuk mempercepat program diversifikasi energi sebagai mana ditetapkan dalam Undang-Undang 30/2007 tentang energi.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H Legowo yang memimpin rapat langsung dari Jakarta menuturkan dalam upaya mendukung program diversifikasi energi mulai tahun 2009, pemerintah melalui Direktorat Jendral minyak dan gas bumi telah membangun infrastruktur jaringan gas bumi untuk rumah tangga. Pada tahun 2008 sudah menyelesaikan Front and Engineering Desain (FAED) untuk bisa mendistribusikan gas bumi ke pelanggan rumah tangga di 6 kota yaitu Pelembang, Surabaya, Bekasi, Depok, Medan dan Blora.

“Karena program ini adalah program nasional yang harus disukseskan bersama-sama. Program jaringan gas bumi untuk rumah tangga kita tujukan utamanya adalah dalam rangka untuk mencapai kemandirian daerah didalam penyiapan energinya sendiri, terutama yang berasal dari daerahnya. Ini juga sudah tercantum di dalam undang-undang energi nomer 30 tahun 2007 bahwa diutamakan energi untuk memenuhi kebutuhan di daerah penghasilnya sendiri,” katanya. 

Mengapa kami sampaikan demikian, kanjut Evita, karena diketahu bahwa jaringan gas bumi untuk rumah tangga diutamakan untuk daerah-daerah yang memang menghasilkan gas. Sehingga daerah yang bersangkutan dapat menikmati gas tersebut yang berasal dari daerahnya.

Evita menyebutkan, program ini agak sukar dilaksanakan apabila daerah tersebut tidak mempunyai gas karena memang tidak akan memungkinkan terjadi efisiensi gas. Karena salah satu tujuan dari program ini adalah untuk memberikan gas yang efisien, efektif serta relatif lebih murah dibandingkan dengan sumber energi lain untuk pemakaian rumah tangga.

“Apabila untuk gas bumi ini kita bandingkan elpiji sekalipun, maka akan jauh lebih murah serta apabila kita bandingkan dengan bahan bakar minyak tanah maka juga akan jauh lebih murah. Selain murah, gas bumi melalui jaringan yang dibangun pemerintah ini juga mendukung lingkungan,” jelasnya.

Hal ini juga sejalan dengan Peraturan Presiden nomer 5 tahun 2006 bahwa pada tahun 2006 menggunakan campuran dari energisitas lebih dari 50% masih menggunakan minyak bumi. “Padahal kita semua menyadari bahwa minyak bumi saat ini sudah semakin menurun, kita harus bisa merubah paradigma dari minyak bumi ke gas, dari barat ke timur dan dari darat ke laut. Inilah perubahan paradigma di industri migas di Indonesia. Saya berterima kasih kepada bapak ibu sekalian dan semua pihak yang telah mendukung program ini di dalam rangka mewujudkan adanya diversifikasi energi terutama dari minyak bumi ke gas bumi,” tuturnya.

Selain itu, disampaikan pula program penyediaan jaringan gas bumi untuk rumah tangga itu merupakan program nasional sesuai denga Perpres nomer 19 tahun 2010. Yang dikatakan juga ini merupakan saat yang tepat untuk beralih ke gas bumi. “Dan mungkin akan saya selipkan sedikit, bahwa saat ini pemerintah pun bertekat untuk mendorong penggunaan bahan bakar gas untuk transportasi. Jika tadi kita berbicara untuk penggunaan rumah tangga, sekarang kita juga mencoba menggalakkan kembali,” ucap Evita.

Karena, kata Evita, sebetulnya untuk Indonesia, gas untuk transportasi sebenarnya bukan merupakan barang baru. Kita juga sudah memulai dari tahun 1987 tetapi mulai redup, kemudian kita mencoba mendorong pada tahun 2003 sedikit meredup kembali. Maka kita mencoba mendorong kembali di tahun 2012 ini penggunaan gas untuk transportasi.

“Saya mohon bantuan kepada semua pihak supaya kita bisa menggunakan energi lain selain minyak bumi. Ini penting sekali kita sadari bersama-sama untuk melakukan diversifikasi energi untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Sementara Walikota Surabaya Tri Rismaharini menilai, saat ini ada dua kalangan yang menjadi sasaran utama konsumen gas bumi. Yang pertama ialah masyarakat yang menghuni rumah susun karena Pemkot Surabaya tengah menggalakan vertical development (pembangunan dengan memanfaatkan ruang secara vertikal, red). “Penyaluran gas bumi lebih praktis dan cocok untuk bangunan bertingkat, bayangkan kalau menggunakan tabung LPG yang demikian berat.”

Sasaran kedua yakni para pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil & Menengah). Walikota menjelaskan, pemakaian gas bumi terbukti dapat menekan pengeluaran hingga 30-50 persen. “Jika semua pelaku UMKM di Surabaya menggunakan gas bumi tentunya dapat menambah pemasukan sehingga bisnisnya dapat lebih berkembang,” tutur mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya ini.

Acara video conference tersebut juga memberi kesempatan bagi warga di tiga kota untuk terlibat tanya jawab dengan Dirjen Migas di Jakarta. Ernawati, salah seorang pelaku UMKM mengaku perbedaan yang dirasakan cukup signifikan. “Ketika masih menggunakan LPG per bulan saya harus mengeluarkan Rp 500 – 600 ribu sedangkan sejak beralih ke gas, per bulan hanya Rp 300 – 400 ribu saja,” kata warga RT 01 RW 03 Kelurahan Kalirungkut ini.

Saat ini, pelayanan jaringan distribusi pipa gas dapat dijumpai di wilayah Kecamatan Rungkut. Di Kelurahan Kali Rungkut sebanyak 1297 KK dan di Kelurahan Rungkut Kidul sebanyak 1464 KK. Kedepan akan dikembangkan lebih jauh lagi, bahkan Walikota berharap jaringan pipa gas dapat mengcover area yang lebih luas, khususnya di beberapa kawasan yang dinilai strategis.(Hy)


Bookmark Button
Wisata & Lokasi Menarik
Sparkling Surabaya