08/03/2012 17:17:16
Libatkan Pria Atur Kelahiran

Dinkominfo - Guna memasyarakatkan program KB pria Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas & KB) hari ini, Kamis (8/3) bertempat di Kantor Humas Pemkot Surabaya gelar konferensi pers terkait program Pemerintah kota Surabaya mengajak kaum kaum pria untuk mengikuti program KB.

Perkembangan KB keikutsertaan pria sebagai peserta KB masih belum terasa. Lain halnya dengan peserta KB perempuan yang jumlahnya cukup besar. Sebab, perhatian pemerintah dalam pelaksanaan program KB cenderung lebih difokuskan pada perempuan. Sehingga, muncul anggapan bahwa KB merupakan tanggung jawab perempuan. 

Guna meningkatkan efektifitas pelaksanaan program KB di Surabaya. Bapemas & KB Surabaya akan melibatkan dan mendorong peran aktif pria dalam mengatur kelahiran. Sehingga, berdampak pada kesejahteraan keluarganya.

Dikalangan masyarakat alat kontrasepsi KB bagi pria sangat terbatas, juga KB pria masih dianggap tabu. Dalam jumpa pers, di kantor Bagian Humas, Kamis (8/3), Kepala Bapemas & KB kota Surabaya, Antiek Sugiharti mengatakan program KB untuk pria dilakukan untuk mencapai target pencapaian KB di kota Surabaya. Sasarannya yakni keluarga menengah kebawah. 

“Kenapa dipilih pada Pasangan Usia Subur (PUS) keluarga menengah kebawah. Karena, dilihat dari kebutuhan keluarga mereka. Pemkot Surabaya ingin masyarakat Surabaya makmur dan sejahtera. Dengan cara mengurangi jumlah anak bagi PUS keluarga menengah kebawah. Pertimbangaya mereka pasti memikirkan pendidikan, kesehatan, kebutuhan sehari-hari mereka,” ujarnya dihadapan para wartawan saat jumpa pers. 

Mantan Kepala Bagian Kerjasama ini menambahkan bahwa proses KB MOP tidak berbahaya seperti anggapan dikalangan masyarakat. Sebenarnya, pria yang telah divasektomi, bisa di rekanalisasi. “Pria PUS yang sudah di Vasektomi, terus mau memiliki anak, bisa dikembalikan normal kembali. Namu, biaya untuk rekanalisasi masih tergolong mahal,” imbuhnya. 

Sementara itu, salah satu warga yang pernah melakukan vasektomi, Suharto Ahmad (47), warga Kecamatan Pakal. Merasa sangat terbantu sekali dengan adanya vasektomi. Tak hanya itu, dia juga telah mengajak warga Pakal lainnya untuk ikut vasektomi. 

“Mulanya, saya tidak tahu kalau pria bisa menggunakan alat kontrasepsi KB. Kebetulan sekali saya bertemu Petugas Penyuluh KB di Kecamatan Pakal. Saya utarakan niat saya untuk ber-KB. Lalu, niat saya didukung, termasuk istri saya juga mendukung. Jadi, saya beranikan diri untuk vasektomi,” cerita pria 5 anak ini saat testimony dihadapan para wartawan. 

Ia menuturkan setelah divasektomi ketakutan yang selama ini berada di benaknya tidak terjadi. Malahan, ia mengatakan mitos pasca vasektomi fisik menurun, dan tidak bisa greng lagi tak terbukti. “Ternyata setelah vasektomi, punya saya masih bisa greng. Jadi, mitos di masyarakat yang saya dengar tidaklah benar,” pungkas pria yang juga ketua paguyuban KB pria di Kecamatan Pakal. 

Data jumlah target (permintaan perkiraan masyarakat peserta KB baru pria (PB pria) tahun 2011 di Kota Surabaya sebesar 3.695 (MOP: 120; kondom: 3675) peserta, sedangkan hasill pencapaian sampai dengan bulan Desember 2011 sebanyak 8764 peserta atau 237 %. Dimana pencapaian PB Pria terdiri dari MOP sebesar 154 peserta dan Kondom sebesar 8610 peserta. 

Jika dibandingkan dengan proporsi mix kontrasepsi pria terhadap total PB , maka proporsi hanya 0,17 % dan Kondom 9,8 %. Dengan demikian PB pria Baru tercapai sebesar 9,97 % dari keseluruhan PB yang ada sebanyak 67.393 peserta. Animo masyarakat terhadap metode pria masih rendah, hal ini disebabkan masih kurangnya pemahaman mengenai kontrasepsi pria yang sulit untuk  direkanalisasi dan adanya Fatwa MUI . (*)


Bookmark Button
Wisata & Lokasi Menarik
Sparkling Surabaya