Manten Pegon Surabaya

Inilah model pengantin khas Suroboyo, dimana tata  rias dan busananya merupakan gabungan dari pengaruh beberapa etnik budaya, Suroboyo, Arab,  Madura,  China  dan  Belanda.  Kolaborasi berbagai  budaya memberi  kesan  unik.  Busana  pengantinnya memang  agak  sedikit  berbeda  dari pengantin tradisional yang selama ini dikenal. Tidak heran  jika  sepintas melihatnya,  busana  pengantin perempuan mirip seperti Nonik-nonik Belanda, sedang prianya mengenakan  busana  timur  tengah lengkap
dengan sorban.

Keunikan pengantin Pegon, merupakan simbol dari pengembangan budaya bangsa. Paduan budaya dapat dilihat  pada  rias  busana  pengantin  pria  yang  diambil dari  budaya Arab,  yaitu memakai  Jubah  dan Sorban. Sedangkan budaya Jawa dengan memakai Rok Panjang. Sedangkan Slayer mengikuti budaya Barat. Jamang (Mahkota) -nya diambil dari budaya Jawa, dan bahan Sutra diambil dari budaya Cina.

Persatuan  perias  pengantin  di  Surabaya,  lewat Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI Melati), mulai menekankan pelestarian gaya pengantin pegon. Maka  digelarlah  Festival  Manten  Pegon  Suroboyo, dengan maksud untuk menambah wacana, membuka wawasan para perias pengantin agar  lebih mengenal, memperhatikan, dan mencintai. Serta ikut melestarikan dan mengembangkan Pengantin Pegon. Tujuan lainnya, agar bisa diminati oleh masyarakat luas sehingga pada akhirnya mempunyai pangsa pasar yang bagus. Jadilah festival  ini  digelar  rutin  tiap  tahun  di Kota Surabaya, pada medio bulan Juli.

Dalam upacara melestarikan budaya misi pagelaran Kesenian di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah sudah menyajikan salah satu budaya daerah yaitu "PROSESI PENGANTIN PEGON SURABAYA"

Tahap Kenalan

Merupakan kegiatan dimana keluarga calon pengantin pria berkunjung ke keluarga calon pengantin putri untuk saling berkenalan dan sekaligus menanyakan apakah si anak perempuan sudah ada yang mengikat atau belum. Biasanya kedatangan keluarga laki-laki dengan membawa buah tangan berupa makanan kue-kue tradisional.

Tahap Lamaran

Merupakan pembicaraan antar keluarga, dengan melibatkan calon mempelai wanita dimana maksut kedatangannya untuk meminta putri keluarga wanita akan di jodohkan dengan anaknya. setelah pihak perempuan menerimanya maka dilanjutkan dengan acara serah peningset(biasanya berupa: Kain panjang,kebaya,selop,perlengkapan pakaian, 1 stel baju, tas, kosmetik, perhiasan, kue dan buah-buahan)selanjutnya pembicaraan mengenai hari dan tanggal pernikahan.
Tahap Midodareni

Merupakan kegiatan dimana pada hari tersebut adalah hari terakir bagi mempelai wanita seorang bidadari dan diyakini pada masa akhir tersebut turunlah 1001 (seribu satu) Bidadari mendampingi calon mempelai. Pada saat Midodareni ini keluarga calaon pengantin putri dilaksanakan:

  1. Siraman: Yaitu upacara yang menggambarkan saat terakhir calon mempelai menjadi tanggung jawab orang tua yang di tandai dengan memandikannya kembang setaman oleh orang tua mempelai dan sesepuh.
  2. Jualan (dodol,jawa) dawet oleh calon orang tua calon pengantin

Wisata & Lokasi Menarik
Sparkling Surabaya