AKADEMI TNI AL
 
 

AKADEMI TNI AL

Alamat :

Bumimoro Surabaya

Telp. (031)3291092-4

Fax. (031)3291095

 

PROFIL AKADEMI TNI AL

Akademi Tentara Nasional indonesia Angkatan Laut atau disingkat AAL adalah lembaga pendidikan dlingkungan TNf f TNI AL, yaitu tempat bagi pemuda indonesia yang telah memilih untuk bertugas dan berkarir menjadi Perwira TNI AL sebagai medan pengabdiannya kepada nusa dan bangsa. Setelah menempuh pendidikan selama 3,5 tahun sebagai Kadet dan 7 bulan sebagai Perwira Siswa, mereka akan dilantik dengan pangkat Letnan Dua yang terdiri dari 5 (lima) korps yaitu Korps Pelaut, Teknik, Elektronika, Administrasi dan Korps Marinir dengan ikatan dinas selama sepuluh tahun.

 

TUGAS POKOK

AAL merupakan Badan Pelaksana Pusat tingkat Markas Besar TNI Angkatan Laut dengan berkedudukan langsung di bawah Kepala Staf TNI Angkatan Laut dengan tugas melaksanakan pendidikan pertama Perwira Prajurit Karir / Sukarela TNI AL tingkat Akademi dan Pendidikan Perwira Siswa.

 

SEJARAH SINGKAT

Pada awat berdirinya AAL diresmikan sebagai Institut Angkatan Laut (tAL) oleh Presiden Republik Indonesia pertama pada tanggal 10 Oktober 1951 meskipun kesiapannya sendiri telah dimulai kira-kira satu bulan sebelumnya. Dalam perkembangannya sampai saat ini AAL telah mengalami beberapa perubahan nama dan pola waktu pendidikan serta organisasinya namun tetap dengan status serta prinsip dasar penyelenggaraannya dan sistem pendidikan yang sama.

Periode-periode perubahan tersebut meliputi :

1951 - 1956, INSTITUT ANGKATAN LAUT

1956 - 1965, AKADEMI ANGKATAN LAUT

1966 - 1985, AKABRI BAGIAN LAUT

1985 – dst., AKADEMI TNI ANGKATAN LAUT

 

Periode IAL (1951 - 1956)

Dalam periode IAL, pendidikan bagi para Kadet (sebutan Taruna pada saat itu) ditetapkan selama 3 tahun dengan sistem korps yang meliputi Korps Pelaut, Teknik, Teknik Elektro, Komando, Administrasi, Kesehatan dan Dinas Khusus. Meskipun ketika itu ditetapkan 7 korps namun pada Angkatan Pertama hanya dididik 3 korps (Pelaut / Navigasi, Teknik Mesin dan Administrasi / Supply), kemudian Angkatan ke-II menjadi 4 korps (ditambah KKO/Marinir). Baru mulai Angkatan ke-III lengkap memiliki 5 korps ditambah korps Kesehatan yang kuliah di Universitas Airlangga dan korps Khusus di Akademi Pendidikan Jasmani. Sebagai suatu institut ketika itu perbandingan antara pelajaran teori dan praktek / latihan adalah 54% : 23% dan 23% merupakan kegiatan lainnya.

Pada periode ini tepatnya pada tanggal 1 Oktober 1953 IAL menerima kapal Latih yang diberi nama KRI DEWARUCI. Kapal dari tipe Barquentin yang dipesan dari galangan kapal Stulcken & Sohn Hamburg Jerman pada tahun 1952.

 

Periode AAL (1966 -1965)

Lima tahun kemudian pada tanggal 13 Desember 1956, IAL mengalami perubahan menjadi Akademi Angkatan Laut dengan sistem dan lama waktu pendidikan tetap setama 3 tahun.

Selanjutnya pada tahun 1961 pendidikan selama 3 tahun dinilai terlalu singkat untuk menyiapkan calon-calon Perwira Angkatan Laut sehingga waktu pendidikan ditambah menjadi 4 tahun. Prosentase pelajaran yang diberikan meliputi 73 % pelajaran praktek / latihan serta teori kemiliteran / keangkatan-lautan (PROFESI) dan 27 % pengetahuan akademik (IPTEK). Sedangkan sistem lima korps yang ada dilebur menjadi 3 korps yaitu korps Pelaut (gabungan dari Pelaut, Teknik dan Elektro), Administrasi dan Komando / Marinir yang disebut sebagai "sistem laut".

Menjelang akhir periode ini sistem laut dengan 3 korps disempurnakan lagi menjadi sistem jurusan terbatas (Limited Line System) atau dinamakan ‘Sistem Cikar Kemudi' yang hanya terdiri dari korps Pelaut dan Marinir.

Sistem ini hanya menghasilkan sebagian Angkatan ke-XI, dan keseluruhan untuk Angkatan ke-XII dan XIII. Sedangkan Angkatan ke-XIV dan ke-XV kembali menjadi 4 korps (Pelaut, Teknik, Elektronika, dan Marinir) yang merupakan masa peralihan dengan timbulnya gagasan untuk mengintegrasikan ke empat Akademi Angkatan dan Polri dalam wadah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang diresmikan pada 16 Desember 1965.

 

Periode AKABRI BAGIAN LAUT (1965 - 1985)

Dengan diresmikannya Akabri pada akhir tahun 1965 dalam upaya peningkatan integrasi antar Angkatan dan Polri, Akademi Angkatan Laut berubah menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Bagian Laut atau Akabri Bagian laut. Pada saat ini pula sebutan Kadet AAL diganti dengan sebutan Taruna AAL sebagaimana dengan ketiga Akademi lainnya. Akabri Bagian Laut merupakan Komando Pelaksana Utama Akabri yang pembinaannya langsung berada di bawah Komandan Jenderal Akabri dengan tugas menyelenggarakan pendidikan menurut kurikulum khas matra laut. Dalam penyelenggaraannya upaya pendidikan yang dilaksanakan meliputi Pengajaran, Latihan dan Pengasuhan serta tetap dengan sistem korps selama 4 tahun.

Dalam kaitannya dengan upaya integrasi, kegiatan-kegiatan pendidikan utama yang bersifat integrasi meliputi Pendidikan Dasar Prajurit, Latihan integrasi Taruna Wreda dan kegiatan Pekan lntegrasi dan Kejuangan Taruna/Piktar.

 

Periode AKADEMI TNI ANGKATAN LAUT (1985 - sekarang)

Berdasarkan hasil evaluasi dan berbagai pertimbangan terutama dalam upaya mempertajam masalah profesionalisme kematraan dan telah tercapainya integrasi TNI yang mantap serta masalah efisiensi, terhitung tanggal 10 September 1984 pimpinan TNI memutuskan untuk mengembalikan pembinaan Akademi Angkatan l Poiri kepada Angkatannya masing-masing. Walaupun pembinaan berada di bawah Kepala Staf masing-masing Angkatan, untuk kegiatan-kegiatan integrasi tetap dilaksanakan di bawah koordinasi Markas Komando Akabri (sekarang Markas Komando Akademi TNI).

Pada periode ini terjadi perubahan pola waktu pendidikan dari 4 tahun menjadi 3 tahun sebagai Taruna di AAL dan 1 tahun sebagai Perwira Siswa di Komando Pendidikan TNI Angkatan Laut sebelum memasuki masa penugasan awal.

Selanjutnya dalam upaya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan sistem pendidikan nasional disusun kurikulum baru yang mempergunakan pengukuran penyelenggaraan dan beban studi dengan satuan kredit semester (148 sks) sebagaimana halnya di Perguruan Tinggi nasional. Kurikulum mulai berlaku secara penuh untuk Taruna Angkatan ke-XLI yang disempumakan kembali pola waktunya menjadi 3,5 tahun sebagai Taruna dan 7 bulan sebagai Perwira Siswa yang keseluruhannya dilaksanakan di AAL.

Pada bulan Mei 2003, terjadi perubahan sebutan nama Taruna menjadi Kadet AAL yang juga pernah dilaksanakan pada Angkatan sebelumnya sampai pada tahun 1955. Penggunaan kembali nama Kadet bagi Taruna AAL ini berdasarkan Skep Kasal No. Skep:714/IV/2003 tanggal 23 April 2003.

 

MISI AKADEMIS

Setelah lulus dan dilantik menjadi Letnan Dua (Letda) oleh Presiden RI, para Perwira-Perwira TNI AL tersebut kelak akan menjadi Pemimpin TNI AL di masa datang yang tanggap, tanggon dan trengginas yang memiliki pola pikir ke depan dan global.

 

MOTO AKADEMI TNI AL

HREE  DHARMA  SHANTY

 

HREE              :     MALU BERBUAT SESUATU YANG BERTENTANGAN DENGAN SUMPAH PRAJURIT

DHARMA         :     TUGAS, PERBUATAN DAN KEWAJIBAN SEBAGAI SEORANG PERWIRA

SHANTY          :     JIWA YANG SUCI DAN PIKIRAN YANG BERSIH DALAM MELAKSANAKAN TUGAS

 

FALSAFAH PENDIDIKAN

AAL sebagai bagian dari lembaga pendidikan di lingkungan TNI menganut falsafah "DWI WARNA PURWA CENDEKIA WUSANA" yang berarti : Pendidikan AAL pada hakekatnya membentuk Kadet menjadi Perwira TNI / TNI AL yang bermotivasi Patriot Pejuang Pancasila yang mahir dan terampil dalam profesinya untuk membela dan membangun negara.

 

SISTEM PENDIDIKAN

Usaha dan kegiatan pendidikan AAL diselenggarakan dengan memperhatikan sistem pengaruh terhadap anak didik yaitu sistem "TRI TUNGGAL PUSAT". Pengaruh tersebut bersumber pada :

;       KELUARGA, meliputi pengaruh yang berpusat dari orang tua dan sanak saudara, baik secara langsung maupun tidak langsung.

;       KESATRIAN, yang merupakan pendidikan formal, meliputi pengaruh yang berpusat dari segenap "civitas academica" baik secara langsung maupun tidak langsung berdasarkan norma-norma, tata kehidupan keprajuritan yang bersifat hakekat watak khas keprajuritan Indonesia, berjiwa Pancasila, berkode etik Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.

;       MASYARAKAT, meliputi pengaruh yang berpusat dari masyarakat TNI maupun non TNI secara keseluruhan berdasarkan norma-norma tata kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

 

KURIKULUM

Dalam hal kegiatan belajar dan latihan Kadet, kurikulum di Akademi TNI AL menganut pola 5 + 3 + 7 yang artinya sbb :

a.       5 Bulan melaksanakan Pendidikan Dasar Keprajuritan (Diksarjurit) integratif di Akademi Militer (AKMIL) Magelang bersama-sama dengan Taruna dari AKMIL dan AAU.

b.       3 Tahun melaksanakan pendidikan, latihan dan pengasuhan di Akademi TNI AL sebagai Kadet.

c.       7 Bulan sebagai Perwira Siswa (Pasis) di Akademi TNI AL untuk melengkapi beban studi sehingga tercapai sebanyak 165 SKS.

 

Akademi TNI AL menyelenggarakan pendidikan dan latihan melalui 2 program, yaitu :

1.       Pertama, program penanaman watak dan jiwa keprajuritan yang dilaksanakan bersama-sama Taruna AKMIL dan AAU di Magelang. Akademi TNI AL lebih memfokuskan pada metode pengajaran dan latihan yang dimaksudkan untuk mendapatkan kualifikasi tertentu untuk masing-masing korps yang dimiliki oleh TNI AL, yaitu :

a.       Korps Pelaut

b.       Korps Teknik

c.       Korps Elektronika

d.       Korps Suplai

e.       Korps Marinir

 

2.       Kedua, untuk memberikan program pendidikan yang setara dengan program pendidikan di Universitas, Akademi TNI AL melakukan kerjasama dengan Universitas-universitas terkemuka di Jawa Timur seperti ITS, UNAIR, UNIBRAW, UNESA. Mata pelajaran yang diberikan kepada Kadet Akademi TNI AL berasal dari berbagai disiplin ilmu yang mencakup Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Ekonomi Manajemen serta Ilmu Sosial.

 

SEMANGAT DAN TEKAD LEMBAGA

 

AAL bertekad melaksanakan upaya menumbuh kembangkan setiap Kadet seutuhnya sebagaimana layaknya yang dituntut pada diri seorang Perwira TNI/TNI AL. Sebagian besar Perguruan tinggi umum lebih menekankan pada pengajaran bidang akademik, namun di Akademi TNI Angkatan Laut setiap Kadet diberi kesempatan, dididik, dibimbing dan diasuh untuk mengembangkan aspek-aspek kepribadian, fisik dan intelektual.

Apabila para pemuda terpilih menjadi Kadet AAL, lembaga percaya bahwa para pemuda tersebut akan sanggup menyelesaikan program pendidikan selama 4 tahun yang penuh dengan tantangan. Akademi TNI Angkatan Laut terikat pada suatu tekad dan semangat untuk membina setiap Kadet agar berhasil dalam menyelesaikan pendidikan.

 

KJK (KARTIKA JALA KRIDA)

Keberadaan Kadet AAL tidak bisa dipisahkan dengan operasi pelayaran Kartika Jala Krida (KJK). Pada operasi KJK yang dilaksanakan oleh Kadet Tk. III ini, khususnya untuk KJK luar negeri Kadet AAL selalu menggunakan KRI Dewaruci sebagai kapal latih untuk mempraktekkan segala teori yang pernah diterima di kelas.

Pelayaran muhibah ke luar negeri ini dimulai sejak tahun 1954. Berbagai negara di Asia dan Eropa pernah disinggahi. Dalam pelayaran muhibah ini, Kadet AAL bersama dengan KRI Dewaruci telah banyak meraih beragam prestasi diantaranya, pada tahun 1964 berlayar keliling dunia, mengikuti lomba layar Gold Rush Race California tahun 1999 dan berhasil meraih penghargaan sebagai Kapal Layar Tiang Tinggi terpopuler (The Most Populer Tall Ship).

Selain itu, pada event tersebut penghargaan lain yang juga diraih yaitu juara pertama sebagai kapal yang berhasil masuk finish pertama hanya dengan menggunakan layar. Disamping itu, awak kapal ini berhasil juara pertama lomba dayung di Alcatras, juga KRI Dewaruci dan Kadet AAL-nya mendapat penyambutan yang luar biasa dari masyarakat setempat di tiap-tiap pelabuhan yang disinggahi.

Terakhir pada tahun 2000, KRI Dewaruci bersama Kadet AAL telah mengikuti pelayaran "Ops Sail 2000" di Amerika Serikat. Pelayaran menuju Boston yang membawa 77 Kadet AAL Tk.III Korps Pelaut tersebut telah menyinggahi beberapa kota pelabuhan di luar negeri diantaranya, Kwajalien - Honalulu (Hawai) - Franstsco (Alameda) - Alca Putco - Panama - Miami - Norfolk - Baltimore - New York dan Boston dengan menempuh perjalanan selama 4 bulan (berangkat dari Jakarta bulan Maret 2000).

Dalam pelayaran tersebut, KRI Dewaruci bersama Kadet telah mengikuti dua event yaitu "Ops Sail 2000" dengan rute Miami - Norfolk - Baltimore - New York. Selanjutnya dari New York menuju Boston. Di New York, KRI Dewaruci bersama dengan sekitar 47 kapat layar tiang tinggi dari negara lainnya mengikuti Parade Kapal Layar Tiang Tinggi melaksanakan Saiting-Pass dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada tanggal 4 Juli 2000.

Kemudian bulan Maret 2003, sebanyak 72 Kadet AAL melaksanakan pelayaran Muhibah keluar negeri dengan menggunakan KRI Dewaruci. Tujuan negara yang disinggahi diantaranya India, Oman, Ethiopia, Saudi Arabia, Mesir, Tunisia, Spanyol, Perancis dan Belanda.

Jumlah Kadet yang ada sekarang 481 orang, terdiri dari Kadet Tingkat I sebanyak 169 orang, Kadet Tingkat 1I 164 orang dan Kadet Tingkat III 148 orang. Sedangkan Perwira Siswa (Pasis) yang saat ini sedang melaksanakan pendidikan di AAL sebanyak 225 orang, meliputi Korps Pelaut 104 orang, Teknik 25 orang, Elektra 17 orang, Suplay 18 orang dan Korps Marinir 61 orang.

 

SEPUTAR KAMPUS

Akademi TNI Angkatan Laut (AAL) terletak di Morokrembangan Surabaya yang dikenal dengan nama Bumimoro. Pada awal sejarahnya kampus AAL merupakan bagian dari bekas areal Basis Penerbangan AL Belanda (Marine Vfiegkamp) dan Marine Luchvaart Diens (MLD) yang diserahkan kepada ALRI (sebutan TNI AL pada saat itu) pada tanggal 10 September 1950. " Beberapa bangunan yang dipergunakan saat ini masih menampakan ciri bangunan bengkel / hanggar pesawat udara yang telah direnovasi antara lain Gedung Sapudi, Sembilangan dan Bawean.

Memasuki kampus AAL terasa suasana asri wilayah pantai dengan kehidupan flora dan faunanya serta berbagai kegiatan pendidikan militer. Sebelah utara kampus dibatasi perairan Selat Madura, sebelah selatan ujung jalan Toll menuju Malang dan Mojokerto. Sedangkan di sebelah timur berdampingan dengan Komando Pendidikan TNI Angkatan Laut dan bosum / muara sungai Kalianak membatasi sisi sebelah barat.

 

LINGKUNGAN BELAJAR

 

Untuk mendukung kegiatan belajar dan latihan Kadet, Akademi TNI AL menyediakan berbagai macam fasilitas belajar dan latihan, yaitu :

a.       Ruang Belajar / kelas

b.       Ruang Tidur

c.       Long Room

d.       Ruang pertemuan

e.       Gymnasium / pusat kebugaran (fitness center)

f.        Lapangan Tembak

g.       Gedung Simulasi anjungan kapal (Bridge Simulator)

h.       Perpustakaan

i.         Rumah Sakit

j.        Planetarium

k.       Laboratorium bahasa, kimia, fisika, teknik, listrik

l.         Kolam Renang

m.     Halang Rintang, dan sarana kegiatan militer lainnya.

 

Semua fasilitas diatas dipergunakan untuk menunjang kegiatan belajar dan latihan Kadet, agar Kadet Akademi TNI AL memiliki sikap atau jiwa kepemimpinan, integritas yang tinggi, profesional, mudah beradaptasi, memiliki inisiatif dan dapat mengambil keputusan yang tepat.

 

 

LINGKUNGAN MILITER

 

Lingkungan militer di Akademi TNI AL terpelihara dengan baik. Kadet diharuskan untuk tinggal, belajar, berlatih dan memimpin yang bernuansa militer yang merefleksikan tugas dan kehidupan mereka di kemudian hari.

Dalam hal ini, Kadet harus tunduk pada undang-undang atau peraturan disiplin TNI dan TNI AL pada khususnya. Kadet harus bertindak sesuai dengan peraturan dan perintah Akademi TNI AL. Diantaranya Kadet harus mengikuti pelajarn kelas dan latihan yang sudah terprogram, patuh terhadap perintah dan petunjuk atasan, bersikap adil, hormat kepada senua orang serta dapat menempatkan diri dimanapun berada. Mereka juga mewakili Akademi TNI AL dan TNI dalam setiap kegiatan-kegiatan protokoler dan upacara-upacara.

Selain itu, Kadet juga melakukan beberapa latihan-latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan ketrampilan dalam hal kemiliteran pada umumnya dan Angkatan Laut pada khususnya, seperti :

1.       Latihan Orientasi Matra Laut, meliputi :

a.               Pelayanan Pra Jalasesya

b.               Latihan Prayudha

c.               Latihan Suroyudha

d.               Dan Latihan Kartika Jala Krida

2.       Latihan Integrasi, adalah latihan bersama (integrated) para Kadet AAL Tingkat III (Sersan Mayor Kadet) dengan Sersan Mayor Taruna dari AKMIL, AAU dan Akademi Kepolisian (AKPOL). Dalam kegiatan ini, para Kadet dan Taruna dari tiga Akademi Angkatan dan POLRI bersama-sama dengan masyarakat setempat berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti membuat jalan makadam, penyuluhan, Teknologi Tepat Guna (TTG), membangun sarana dan prasarana umum dan lain-lain.

 

 

 

Sumber :

·          Brosur Akademi TNI AL Surabaya

·          Profil Akademi TNI AL, Markas Besar Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut

 
 
  Supported by Badan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
  Jl. Jimerto 25 - 27 Surabaya
  webmaster[at]surabaya.go.id
  Designed for 1024 X 768 pixel
  Friday 21st of November 2014 09:09:24 AM