Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya merealisasikan pembiayaan alternatif melalui Bank Jatim sebesar Rp220.586.212.934 dari total rencana Rp452 miliar pada tahun 2025. Pembiayaan tersebut dialokasikan untuk mendukung lima proyek infrastruktur strategis di Kota Pahlawan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad menjelaskan meskipun realisasi pinjaman lebih kecil dari rencana awal, seluruh proyek tetap berjalan. Sebagian kebutuhan pembiayaan proyek dipenuhi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
"Realisasi pinjaman daerah yang lebih kecil dari rencana tersebut berdampak pada pengurangan beban kredit atau cicilan karena pembiayaan proyek lainnya menggunakan APBD," ujar Irvan, Senin (23/2/2026).
Irvan memaparkan, pembiayaan alternatif tersebut dialokasikan untuk lima kegiatan utama. Pertama, pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) Rp42 miliar. Kedua, pembebasan lahan pelebaran Jalan Wiyung Rp130.235.480.241. Ketiga, pembangunan diversi Gunungsari Rp50.189.846.914. Keempat, pemasangan penerangan jalan umum (PJU) Rp50.297.380.845. Dan kelima, penanganan genangan Rp179.277.292.000.
"Hingga saat ini realisasi pencairan pinjaman baru mencapai Rp220.586.212.934 atau lebih rendah Rp231.413.787.066 dari total rencana," ungkap Irvan.
Secara rinci, Irvan memaparkan bahwa realisasi pembangunan JLLB mencapai Rp40.085.653.026 dari rencana Rp42 miliar, dengan selisih Rp1.914.346.974. Sedangkan pembebasan lahan pelebaran Jalan Wiyung terealisasi Rp130.222.928.000 dari rencana Rp130.235.480.241 atau selisih Rp12.552.241.
Sementara itu, pemasangan PJU terealisasi Rp50.277.631.908 dari rencana Rp50.297.380.845 dengan selisih Rp19.748.937.
"Adapun pembangunan diversi Gunungsari dan penanganan genangan belum terealisasi, masing-masing masih menyisakan Rp50.189.846.914 dan Rp179.277.292.000 sesuai pagu rencana," terangnya.
Dari sisi pelaksanaan fisik, sejumlah proyek telah menunjukkan perkembangan. Pembangunan JLLB telah dilaksanakan sepanjang kurang lebih 380 meter pada segmen Simpang Sebidang Romokalisari ke arah selatan menuju Jalan Raya Sememi.
Pembebasan lahan pelebaran Jalan Wiyung telah mencakup 34 bidang tanah sepanjang kurang lebih 301,9 meter. Sementara itu, pemasangan PJU telah terealisasi sebanyak 6.022 titik.
Irvan lantas menjelaskan manfaat proyek yang dibiayai melalui pinjaman daerah terbagi dalam dua kategori, yakni intangible (tak tampak) dan tangible (tampak). Pada kategori intangible, terdapat penghematan biaya operasional kendaraan (BOK) melalui pembangunan JLLB dan pelebaran Jalan Wiyung yang berdampak langsung pada kelancaran arus lalu lintas.
"Pembangunan JLLB dan pelebaran Jalan Wiyung menghadirkan ruas jalan dengan kapasitas dan kualitas yang lebih baik, sehingga kendaraan dapat bergerak lebih lancar dan efisien," ujarnya.
Kondisi tersebut menurunkan konsumsi bahan bakar, mengurangi keausan ban dan suku cadang, serta memperpanjang umur kendaraan masyarakat maupun angkutan barang dan logistik. Selain itu, tersedia manfaat penghematan waktu perjalanan (time saving) melalui distribusi beban lalu lintas yang lebih merata di koridor Surabaya Barat.
Dari sisi keselamatan, Irvan menilai pelebaran Jalan Wiyung dapat memberikan ruang gerak yang lebih aman bagi kendaraan dan pejalan kaki. Demikian pula, pemasangan PJU di berbagai titik juga meningkatkan visibilitas pengemudi pada malam hari. "Sehingga berkontribusi pada penurunan angka kecelakaan dan tindak kriminalitas," imbuhnya.
Ia juga menilai bahwa peningkatan konektivitas dan aksesibilitas wilayah turut menjadi dampak penting. JLLB akan menghubungkan kawasan lingkar luar barat Surabaya yang sebelumnya kurang terlayani infrastruktur jalan memadai.
"Aksesibilitas yang meningkat mendorong mobilitas warga, memperlancar distribusi barang, serta membuka peluang pengembangan kawasan permukiman dan industri," tambahnya.
Pada kategori tangible, manfaat yang dirasakan antara lain peningkatan pendapatan daerah. Pembangunan JLLB dan pelebaran Jalan Wiyung meningkatkan aksesibilitas kawasan sekitar yang mendorong kenaikan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lahan, sehingga berdampak pada peningkatan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain itu, bertambahnya jumlah titik PJU memperluas basis pengenaan Pajak PJU. Peningkatan konsumsi listrik untuk penerangan jalan berkontribusi pada pertumbuhan penerimaan Pajak PJU yang merupakan salah satu komponen PAD Kota Surabaya.
Tidak hanya itu, ketersediaan infrastruktur jalan dan penerangan yang memadai juga menjadi daya tarik investasi di kawasan komersial, industri, dan properti sekitar JLLB dan Jalan Wiyung. "Pertumbuhan aktivitas ekonomi tersebut diharapkan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Irvan.
Ia menambahkan, JLLB sebagai jalan lingkar luar barat turut mendukung efisiensi logistik dengan menyediakan alternatif rute bagi kendaraan berat dan truk logistik. "Sehingga mengurangi beban jalan arteri dalam kota dan memperlancar distribusi barang menuju kawasan industri, pelabuhan, serta pusat perdagangan di Surabaya dan sekitarnya," tuturnya.
Meski demikian, Irvan menegaskan sejumlah proyek infrastruktur yang telah berjalan pada 2025, akan berlanjut hingga 2026-2027. Pemkot Surabaya merencanakan pembiayaan alternatif melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dengan total nilai Rp3.158.927.030.208.
"Berdasarkan rencana alokasi anggaran, pada 2026 disiapkan pinjaman Rp1.592.915.650.053 dan pada 2027 sebesar Rp1.566.011.380.155. Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai sejumlah proyek strategis," jelasnya.
Rencana pembiayaan tersebut meliputi pembangunan JLLB trase Raya Sememi-Simpang Romokalisari sebesar Rp300 miliar (Rp125 miliar pada 2026 dan Rp175 miliar pada 2027).
Kemudian, pelebaran Jalan Wiyung Rp585.845.125.201, terdiri atas Rp523.845.125.201 pada 2026 dan Rp62 miliar pada 2027, mencakup pembebasan lahan Rp447.845.125.201 serta pembangunan fisik Rp138 miliar.
Selanjutnya, pembangunan Flyover Dolog Rp125 miliar (Rp37 miliar pada 2026 dan Rp88 miliar pada 2027). Lalu, proyek Diversi Gunungsari Rp190 miliar (Rp100 miliar pada 2026 dan Rp90 miliar pada 2027). Kemudian, pemasangan PJU Rp231.423.070.040 (Rp125 miliar pada 2026 dan Rp106.423.070.040 pada 2027).
Adapun rencana pembangunan Jalan Dharmahusada-MERR dialokasikan Rp26 miliar (masing-masing Rp13 miliar pada 2026 dan 2027). Sementara untuk penanganan genangan, rencana anggaran dialokasikan sebesar Rp1.700.658.834.967, terdiri atas Rp669.070.524.852 pada 2026 dan Rp1.031.588.310.115 pada 2027.
Irvan kembali menggarisbawahi bahwa pembiayaan alternatif tahun 2025 dilakukan melalui Bank Jatim. Sedangkan periode 2026-2027 direncanakan melalui PT SMI. "Pembayaran kredit atau cicilan akan diselesaikan sampai dengan Tahun 2029," pungkasnya. (*)